Senin, 12 Februari 2018

Katalogisasi

Februari 12, 2018 Posted by Ratna No comments
Manfaat Katalog: Dulu dan Kini
oleh
Ni Luh Putu Ratnawati
1712312003
Program D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana

Abstrak:
Tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui manfaat katalog dulu dan kini. Namun, dalam paper ini akan lebih membahas tentang manfaat katalog dulu dan kini pada dunia perpustakaan. Paper ini akan memberikan informasi mengenai manfaat katalog dulu dan kini pada perpustakaan berbagai sumber informasi yang diperoleh karena berhubungan dengan kurangnya wawasan terhadap hal ini bagaimanakah manfaat katalog dulu dan kini pada perpustakaan dari zaman dahulu sampai sekarang serta pembahasan mengenai katalogisasi ini bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini informasi mengenai manfaat katalog dulu dan kini pada perpustakaan dapat diketahui setelah membaca paper ini sehingga dapat berguna dan bermanfaat untuk menambah wawasan lebih dalam tentang ilmu kita dalam hal pengkatalogan yang bukan hanya sekedar mempelajari materi yang sudah ada dan tertera saja namun alahkan lebih baiknya harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana manfaat dari katalog dari zaman dulu hingga sekarang serta bagaimana perkembangan katalog dari zaman ke zaman.

Kata kunci : Katalog, manfaat katalog, dan perkembangan katalog

Latar Belakang
            Mempromosikan produk di zaman sekarang manusia sudah tidak perlu repot-repot lagi membawa produk langsung ke customer. Beda halnya di zaman dulu, manusia haru smembawa produk nyata untuk memperlihatkan koleksi produk mereka hal seperti ini sangat memerlukan banyak waktu dan tenaga bahkan membuang-buang tenaga hanya untuk memperlihatkan ke orang lain. Dari pengalaman tersebut, manusia berpikir bagaimana caranya agar saat mempromosikan barang  tidak perlu lagi membawa produk secara langsung. Manusia hanya perlu memperlihatkan gambar yang mewakili semua koleksi yang dimiliki. Dengan terus berkembangnya zaman, manusia menemukan cara agar produk yang mereka tawarkan tidak perlu dibawa. Manusia membuat sesuatu yang sederhana yaitu dengan membuat daftar dari barang-barang ynag dimiliki, ini nantinya akan dipromosikan ke orang lain dengan mudah. Selanjutnya manusia terus memulai membuat beberapa potongan kertas yang isinya daftar-daftar yang mewakili dari seluruh koleksinya.
            Berkembangnya zaman, manusia terus belajar dan belajar. Sampai akhirnya manusia mengenal alat yang dinamakan dengan komputer. Semenjak saat itu manusia mengenal dengan katalog juga dan perkembangannya sangat pesat. Manusia mulai menggunakan komputer untuk membuat katalog, bahkan katalog pada buku sekarang mulai semakin sedikit penggunanya. Karena manusia mulai merasa bahwa katalog dalam komputer lebih efisien dan lebih praktis. Tidak hanya katalog dengan komputer saja, manusia pun mulai mengembangkan katalog yang berbasis online, hal ini karena terciptanya internet yang membuat manusi semakin mengembangkan katalog dengan berbasis online. Dan katalog online saat ini banyak sekali digunakan seluruh orang di dunia ini.
            Pada awalnya katalogisasi digunakan untuk daftar peralatan militer Amerika Serikat dan untuk kepentingan lainnya. Mereka melakukan pengkatalogan untuk mencatat barang-barang militer yang mereka miliki sehingga memudahkan mereka untuk mengecek kembali barang militer. Kegiatan yang mereka lakukan sangat dirasakan manfaatnya sehingga mereka terus melakukan perkembangan terhadap katalog. Zaman dulu katalog bermanfaat sebagai pembuatan daftar-daftar pada barang tertentu, namun di zaman sekarang katalog sangat berkembang pesat yang saat ini mulai dipakai oleh perusahaan untuk mempromosikan produknya. Sehingga penulis ingin menganalisis bagaimana perkembangan kataog dari mulai bentuknya buku sampai berbentuk secara online dan bagaimana manfaat katalog. Katalog saat ini sudah sangat populer karena banyaknya perusahaan yang menggunakan katalog dalam mempromosikan produknya. Katalog juga sudah diterapkan di dunia perpustakaan yang berguna untuk mempermudah menemukan buku yang dikoleksi oleh perpustakaan serta sudah menggunakan katalog yang berbasis online. Perkembangan teknologi yang pesat membuat katalog mengalami perkembangan juga,  dimana katalog dibagi menjadi beberapa bentuk. Dalam hal ini penulis akan memfokuskan bagaimana manfaat katalog dulu dan kini. Pembahasan pertama akan diawali dengan pengertian katalog secara umum sampai mengkhusus ke katalog perpustakaan, tujuan serta bentuk-bentuk katalog dan dilanjutnya dengan manfaat katalog dulu dan sekarang.

Pengertian Katalog
            Katalog berasal dari bahasa lain yaitu “catalogus” yang artinya daftar, dalam pengertian umum katalog diartikan sebagai nama-nama, judul dan barang-barang. Dalam sejarah kepustakawanan, katalogisasi atau pengkatalogan merupakan keterampilan yang sudah dimiliki sejak berabad-abad lamanya sebagai senaria inventaris. Dalam dunia perpustakaan katalog diartikan sebagai daftar bibliografi yang di susun secara sistematis sehingga memungkinkan pengguna perpustakaan dapat dengan mudah mengetahui dan mengenal koleksi yang ada di perpustakaan, dan di mana koleksi tersebut diletakkan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2001) katalog merupakan secarik kartu, daftar atau buku yang memuat nama benda atau informasi tertentu yang ingin disampaikan, disusun secara berurutan, eratus dan alfabetis. Katalog juga merupakan gambaran dari fisik sebuah dokumen. Hasil pokok  dari kegiatan katalogisasi adalah penyusunan dari bahan pustaka dan pemeliharaan katalog yang memberikan akses utama kepada koleksi.
            Katalog perpustakaan adalah daftar semua bahan pustaka (buku, majalah, kaset, keping CD dan lain-lain) yang ada di perpustakaan dengan dilengkapi oleh semua cantuman bibliografis sesuai dengan sistem yang telah ditentukan pada katalog untuk semua jenis bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan. Hal ini diharapkan dapat membantu user untuk menemukan kembali bahan pustaka yang diperlukan dengan cepat dan tepat. Katalogisasi atau pengkatalogan adalah proses pembuatan katalog, dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka baik itu secara fisik maupun isi intelektual seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi, katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
            Bentuk katalog sudah cukup berkembang serta bermacam-macam, ada yang berbentuk buku, berbentuk kartu dan ada juga yang berbentuk CD dan katalog perpustakaan sekarang yang sering digunakan ialah OPAC (Online Public Acces Catalog). Katalogisasi mempunyai berbagai macam proses, proses tersebut yaitu mencantumkan data-data penting dari bahan pustaka, seperti judul, nama pengarang, penerbit dan subyek. Katalogisasi terbagi menjadi dua bagian yaitu katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subjek. Katalogisasi deskriptif yaitu mengidentifikasi dan merekam data bibliografi suatu buku atau dokumen. Sedangkan katalogisasi subjek adalah kegiatan menentukan nomor klasifikasi dan tajuk subjek buku atau dokumen. Perpustakaan zaman sekarang menggunakan katalog karena begitu banyaknya buku yang tersimpan dalam perpustakaan. Hal ini yang membuat adanya katalog di perpustakaan. Sehingga tidak perlu membutuhkan banyak waktu untuk mencari buku walaupun dalam suatu pepustkaan yang memiliki banyak koleksi.

Tujuan Katalog
            Pemakaian perpustakaan menggunakan koleksi perpustakaan untuk mencari bacaan, atau informasi untuk melakukan kegiatan penelitian, dan sebagai alat bantu belajar maupun kegiatan lainnya. Mungkin saja pemakai tidak dapat menemukan buku yang diinginkan dalam rak. Untuk mengetahui buku apa saja yang dimiliki perpustakaan diperlukan adanya alat bantu yang disebut katalog perpustakaan. Jadi katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi. Katalog perpustakaan berarti sistematika daftar buku atau bahan pustaka ynag lain didalam perpsutakaan yang memberi informasi tentang pengarang, judul, edisi, pemerbit, tahun terbit, ciri fisik, isi, dan lokasi bahan pustaka tersebut disimpan. Tujuan katalog menurut C.A Cutter yaitu sebagai berikut:
1.   Memudahkan seseorang menemukan sebuah karya yang telah diketahui pengarang, judul atau subyeknya.
2.   Memperlihatkan apa yang dimiliki perpustakaan melalui ama pengarang, subyek dan jenis literaturnya.
3.   Membantu pemilihan sebuah karya seperti dalam hal edisinya secara bibliografis dan karakternya.

Bentuk-Bentuk Katalog
            Perpustakaan merupakan suatu organisasi yang terus berkembang. Hal itu bisa dilihat dari bentuk fisik katalog yang terus mengalami perubahan, katalog dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk fisiknya antara lain adalah sebagai berikut:
1.   Katalog kartu (Card Catalog)
Katalog kartu sudah digunakan dari seratus tahun yang lalu, hingga sekarang tidak sedikit perpustakaan yang menggunakan katalog ini. Katalog bentuk kartu ini berukuran 7,5 x 12,5 cm. Setiap entri ditulis pada satu kartu. Kartu kemudian dijajarkan dalam pertimbangan sebagai berikut:
1)      Awet dan tahan lama
2)      Fleksibel, yang artinya penyisispan entri baru dan pengeluaran entri yang tidak diperlukan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, katalog selalu mencerminkan keadaan bahan perpustakaan secara up to date.
3)      Ringkas yang berarti hemat tempat.
4)      Akses langsung, yaitu dapat digunakan kapan saja oleh pegawai dan beberapa pemustaka sekaligus.
5)      Terseduia lebih dari satu pendekatan. Biasanya, kartu katalog dibuat dalam tiga jenis yaitu katalog pengarang, katalog judul, dan katalog subyek.
6)      Dapat diperbanyak dengan mudah, murah, dan cepat.
7)      Ekonomis, yaitu tidak memerlukan biaya yang tinggi dalam proses pembuatannya.
2.   Katalog berkas
Merupakan kumpulan kertas/kartu berupa lembaran berukuran 7,5 x 12,5 cm. atau 10 x 15 cm. Masing-masing lembar berisi data katalog. Pada bagian kiri diberi lubang. Kemudian diikat atau dijilid. Pada bagian depan dan belakang diberi karton tebal berfungsi sebagai pelindung. Setiap berkas dapat memuat antara 500 hingga 600 lembar. Berkas yang sudah terjilid kemudian disusun menurut nomor berkas.
3.   Katalog buku
Bentuk katalog buku berupa daftar judul-judul bahan perpustakaan yang ditulis atau dicetak pada lembaran-lembaran yang berbentuk buku. Katalog buku sebenarnya tidak fleksibel karena penyisipan dan pengeluaran entri katalog tidak mudah dilakukan. Katalog bentuk buku memiliki beberapa keuntungan, seperti mudah digunakan, dapat dibawa kemana-mana, dan digandakan dengan mudah. Disamping keuntungan yang dimiliki katalog buku, katalog bentuk ini juga memiliki kerugian yaitu katalog sekali jilid maka katalog buku menjadi usang, karena tambahan buku tidak dapat disisipkan ke entri yang sudah ada. Ketika dulu manusia belum mengenal adanya komputer dan jaringan internet, katalog yang digunakan manusia saat itu adalah katalog yang berbentuk kertas ynag tersusun menjadi sebuah buku. Namun, katalog saat itu sangat berguna untuk membantu kegiatan manusia diantaranya mendaftar barang-barang militer, yang saat itu katalog baru pertama kali dilakukan dan sangat dirasakan manfaatnya. Dalam katalog buku juga memiliki kekurangan yaitu katalog ini biasanya paling murah, dan dapat diubah banyak dan dapat pula diperjual belikan. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui supaya sesuai dengan keadaan.
4.   Katalog online
Katalog online merupakan katalog yang data bibliografinya disimpan dalam database komputer. Untuk membuat katalog online dibutuhkan perangkat komputer dan program aplikasi tertentu karena pemanggilan data dilakukan dengan menggunakan bahasa komputer. Contoh : Online Public Acces Catalogue (OPAC). Penelusuran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sekaligus misalnya, melalui judul, subyek, dan lain sebagainya yaitu dengan menggunakan penelusuran boolean logic. Keuntungan lain dari adanya katalog online yaitu penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan kapasitas besar yang memungkinkan input banyak muatan data bibliografis, penelusuran dapat dilakukan oleh banyak pengguna perpustakaan dalam waktu yang bersamaan tanpa saling mengganggu dan tidak sampai terjadi kerumunan atau antrian sebagaimana katalog manual, data bibliografis yang dapat dimasukkan ke dalam entri katalog tidak terbatas.
Katalog online mulai berkembang saat mucul adanya komputer, data pustaka yang di input komputer dirasa dapat memberikan kemudahan bagi manusia dalam menemukan buku. Ketika manusia yang menginginkan untuk mengakses katalog iklan maupu katalog pada perpustakaan, katalog online menjadi salah satu cara alternatif lain yang mudah dilakukan. Hal ini karena katalog online dapat dilihat dimana saja dan kapan saja asalkan ada jaringan internet. Katalog online menjadi katalog yang paling laris digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Seperti pada web belanja online, yang hampir semua menggunakan katalog online untuk mempromosikan barangnya. Manfaat katalog online yaitu sebagai berikut:
1)   Penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
2)   Penelusuram dapat dilakukan dimana saja dan tidak harus datang ke perpustakaan.
3)   Menghemat waktu dan tenaga.
4)   Pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka.
5)   Keberadaan perpustakaan diketahui masyarakat luas.
6)   Pengguna dapat mengetahi kebeadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak dipinjam.
7)   Meningkatkan layanan perpustakaan.
8)   Dapat menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.
Sedangkan untuk kekurangannya menggunakan katalog online yaitu sebagai berikut:
1)  Apabila ada bahan pustaka yang belum masuk ke data base pengguna mengalami kesulitan dalam melakukan penelusuran.
2)  Tergantung aliran listrik, bila listrik mati maka kegiatan penelusuran bahan pustaka akan terganggu.

Manfaat Katalog Dulu dan Kini
            Saat ini di kehidupan manusia katalog sudah berkembang. Sudah banyak orang yang berbisnis menggunakan katalog untuk mempromosikan produknya. Mulai dari restaurant yang menggunakan katalog unutk menu makan agar para pelangggan bisa melihat makan yang di tersedia di restaurant tersebut. Katalog pertama kali  dilakukan oleh angkatan laut Amerika pada tahun 1914. Angkatan laut ini membuat daftar-daftar barang militer. Daftar ini kemudian dipublikasikan oleh “Nayal Depot Supply and stock Catalog”. Walaupun masih sederhana, namun pada masa itu sudah dirasakan manfaatnya dalam penentuan perang dunia I. Pada tahun 1929 sistem katalog berkembang dilingkungan pemerintah Amerika. Pada tahun ini Presiden Hoover memutuskan bahwa “Federal Standart Stock Katalog” untuk pemerintah yang berada dalam Departemen Keuangan. Pada tahun 1932 Presiden Rooselvelt berusaha mengembangkan sistem katalog di Amerika yang seragam. Dan pada tahun 1935 President memutuskan suatu peraturan bahwa “Federal Standart Stock Catalog” diberikan untuk seluruh negara Amerika, ini berarti bahwa sistem katalog yang seragam mutlak perlu dilaksanakan dalam setiap Departemen. Sistem katalog ini berlangsung hingga perang dunia II. Selama perang dunia II di lingkunngan pemerintah Amerika terdapat berbagai sistem katalog yang berbeda. Hal ini membuat terjadinya kekacauan pada pemerintahan Amerika dan pada tanggal 18 Januari 1945 Roosevolt mengakui bahwa kekacauan katalog Amerika mengakibatkan pemborosan keuangan dan membahayakan keamana negara. Sehingga pemerintah pada masa itu menetapkan setiap instansi harus menggunakan katalog yang sama dan pada tanggal 3 Juli 1947 Angkatan Darat dan Angkatan Laut membentuk sistem Kataloging yang sama.
            Pada tanggal 1 Juli 1952 dengan Undang-Undang nomor : 436 Departemen Pertahanan dan Keamanan Amerika (DOD) mengesahkan “The Defense Cataloging and Standarization Aet” (Undang-udang Katalogisasi dan Standarisasi Pertahanan). Pada saat ini ditetapkan bahwa sistem penomoran barang menggunakan “Federal Stock Number” (FSN). Sistem katalog DOD dan Departemen Sipil berkembang menjadi sistem yang integral, sistem ini merupakan sistem yang luas dan terdiri dari berbagai kegiatan. Pada tahun 1956 beberapa negara kelompok NATO ikut menggunakan sistem (FSN). Mulailah kode Federal Stock Number (FSN) berubah menjadi “Nato Stock Number” (NSN). Pada tahun 1965 seluruh katalog barang dengan stock number (baik yang Federal maupun NATO System) diproses dengan komputer. Pada tanggal 1 Januari 1962 “Defense Logistics Services Center” (DLSC) dibentuk.   DLSC ini merupakan pusat kegiatan katalog Amerika serta negara-negara NATO. Pada tahun 1975 sistem NSN diresmikan penggunaannya oleh pemerintah Amerika dan berlaku pula untuk negara-negara Eropa dalam bentuk blok NATO. Bulan-bulan berikutnya hampir seluruh negara Eropa (kecuali Blok Timur) menggunakan NSN. Sistem ini kemudian diikuti oleh negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin.  Di Indonesia yang pertama kali menggunakan katalog adalah TNI AU, yang resmi menggunakan sistem ini pada tahun 1983, meskipun sebelumnya menggunakan NSN.  Melihat dari perkembangan katalog tersebut dapat diketahui bahwa katalog pertama kali dilakukan di negara Amerika yang digunakan untuk mendaftar barang–barang militer, lalu diikuti oleh negara -negara yang tergabung di NATO, negara Eropa, dan negara–negara Asia. Dengan perkembangan katalog yang sangat pesat tidak menutup kemungkinan jika katalog selalu mengalami perubahan–perubahan sesuai dengan perkembangan zaman.
            Dalam perjalanan sejarah, katalog perpustakaan telah mengalami perkembangan dan juga perubahan seiring dengan perkembangan teknologi informasi serta perubahan perilaku informasi oleh para penggunanya. Perubahan tersebut terjadi dari katalog yang awalnya berbentuk buku, kartu sampai OPAC (Online Public Acces Catalog).  Hali ini membuktikan bahwa sesungguhnya katalog perpustakaan dari waktu ke waktu terus menyesuaikan diri dengan setiap perkembangannya yang terjadi terutama berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.  
            Zaman globalisasi sekarang ini menandakan bahwa zaman sebelumnya sangat berkembang pesat. Di era ini katalog juga ada hubungannya dengan World Wide Web, manfaat dai hubungan ini adalah untuk mengubah perilaku para pengguna dalam mencari informasi di perpustakaan. Untuk mereka yang jarang berkunjung ke perpustakaan tidak perlu susah-susah lagi datang ke perpustakaan, mereka bisa langsung mencari informasi yang mereka butuhkan melalui jaringan kompter global. Katalog yang berada di perpustakaan tidak lagi sering digunakan karena katalog tersebut dianggap hanya sebatas untuk mencari bahan pustaka tersebut. Bahkan jika daftar bahan pustaka yang kita inginkan ada di dalam katalog itu belum tentu bahan pustaka yang terdaftar tersebut ada di dalam rak buku tersebut. Pada saat ini katalog perpustakaan terdiri dari deskripsi yang singkat yang sangat standar arena aturan pengkatalogan yang digunakan adalah AACR2 (Anglo American Cataloging Rules). Setiap item berisi perwakilan suatu catatan yang terstruktur jelas berisi kolom data. Katalog perpustakaan adalah suatu alat yang dapat menunjukkan kekayaan koleksi perpustakaan kepada pengguna, maksudnya yaitu suatu perpustakaan melalui katalog nya dapat mengkomunikasikan kepada pengguna kekayaan koleksinya.
            Zaman modern sekarang, katalog perpustakaan harus mampu berperan aktif tidak hanya sebagai sarana temu kembali informasi, namun informasi yang ada di perpustakaan harus mendukung fungsi manajemen perpustakaan seperti pengawasan inventaris, pengembangan koleksi, pengadaan, pemeriksaan bahan pustaka baru, manajemen anggaran dan lain-lain. Sudah sangat jelas dilihat manfaat yang didapatkan jika menggunakan sistem katalog ini. Katalog juga harus memiliki manfaat sebagai sarana yang mampu menghubungkan antara perpustakaan dan ruang pengatahuan yang ada di web. Katalog pada zaman sekarang paling sering digunakan yaitu OPAC. Manfaatnya yaitu sebagai penelusuran informasi secara cepat dan tepat, penelusuram juga dapat dilakukan secara bersama-sama tanpa ada yang terganggu. OPAC bentuk fisiknya tidak lagi tercetak melainkan memiliki bentuk fisik yang digital dalam komputer, dan masih banyak lagi manfaat dan kelebihan dai OPAC sendiri di bandingkan dengan katalog yang ada pada zaman dahulu.

Kesimpulan
            Dari pembahasan diatas, saya sebagai penulis dapat menyimpulkan bahwa katalog pada zaman sekarang sudah sangat berkembang pesat. Dimana definisi katalog adalah daftar semua bahan pustaka (buku, majalah, kaset, keping CD dan lain-lain) yang ada di perpustakaan dengan dilengkapi oleh semua cantuman bibliografis sesuai dengan sistem yang telah ditentukan pada katalog untuk semua jenis bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan. Yang dulunya terdapat katalog buku sampai akhirnya sejarang ada kalog online. Manfaat katalog pada zaman dahulu yaitu sebagai daftar nama-nama barang militer yang digunakan saat perang dunia I. Sampai akhirnya dimaa mausia sudah mengenal yang namanya komputer dan jaringan internet katalog pun berkembang menjadi katalog online. Katalog online lebih banyak digunakan oleh masyarakat, namun tidak sedikit juga masyarakat dunia yang masih menggunakan katalog buku. Katalog buku sendiri saat sudah semakin diperbaharui agar dapat mengimbangi katalog online. Sudah jelas bahwa manfaat katalog dulu dan sekarang tidak jauh berbeda. Katalog tidak hanya digunakan pada perusahaan yang menawarkan produk saja, melainkan perpustakaan juga menggunakan katalog online.

Daftar Pustaka
Iqra. 2016. Pengertian, Jenis Dan Manfaat Katalog. Diakses pada 9 Februari 2018-02-12 http://perpustakaan-iqra.blogspot.co.id/2016/03/pengertian-jenis-dan-manfaat-katalog.html
Nizam. 2015. Katalog dan Katalogisasi. Diakses pada tanggal 9 Februari 2018-02-12 https://muhaniz.wordpress.com/2015/12/15/katalog-dan-katalogisasi/
Mhd, Zulfahmi. 2017. Berbagai Bentuk Katalog Perpustakaan. Diakses pada 10 Februari 2018 http://ajoefahmi.blogspot.co.id/2017/02/berbagai-bentuk-katalog-perpustakaan.html
Nikiartha, 2013. Katalog Online. Diakses pada 10 Februari 2018 https://nikiartha.wordpress.com/2013/01/19/katalog-online/
Hermanto, Bambang. 2012. Manfaat Katalog Online Bagi Pengguna Perpustakaan. Diaksespada 10Februari 2018 http://ruqoiyahuns.blogspot.co.id/2012/04/manfaat-katalog-online.html
Helsa, 2014. Katalogisasi. Diakses pada 11 Februari 2018






Minggu, 11 Februari 2018

Klasifikasi Sederhana

Februari 11, 2018 Posted by Ratna No comments


Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum
oleh
Ni Luh Putu Ratnawati
1712312003
Program D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana

Abstrak:
            Tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum. Namun, dalam paper ini akan lebih membahas tentang Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi pada Dunia Indormasi dan Perpustakaan. Paper ini akan memberikan informasi mengenai Sejarah dan Perkembanga Klasifikasi pada Dunia Informasi dan Perpustakaan dari berbagai sumber informasi ynag diperoleh karena berhubungan dengan kurangnya wawasan terhadap hal ini bagaimanakah Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi pada Dunia Informasi dan Perpustakaan dari zaman dahulu sampai sekarang serta klasifikasi ini bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini informasi mengenai Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi pada Dunia Informasi dan Perpustakaan dapat diketahui setelah membaca paper ini sehingga dapat berguna dan bermanfaat untuk menambah wawasan lebih dalam tentang ilmu kita dalam hal pengklasifikasian yang bukan hanya sekedar mempelajari materi yang sudah ada dan tertera saja namun alahkan lebih baiknya harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana Sejarah dan Perkembagan Klasifikasi pada Dunia Informasi dan Perpustkaan dari zaman dahulu sampai sekarang.

Kata kunci : Sejarah, klasifikasi, perkembangan klasifikasi, dan Dewey  Decimal Calssification (DDC)

Latar Belakang
            Dalam kegiatan sehari-hari pasti manusia melakukan kegiatan, namun sebelum melakukan kegiatan kita pasti akan berfikir apa yang akan dilakukan dan bagaimana prosedur serta manfaatnya. Sebenarnya kita sehari-hari sering melakukan kegiatan klasifikasi. Sederhananya, klasifikasi itu merupakan kegiatan memilah dan memilih, mengelompokkan, menggolongkan suatu subjek/objek berdasarkan ciri-ciri tertentu.  Contohnya dalam kegiatan pengelompokkan barang, misalnya pakaian yang digunakan sehari-hari serta bumbu dapur yang sering kita jumpai saat memasak. Pengelompokkan ini berfungsi untuk mempermudah dalam melakukan kegiatan serta mempermudah pemakai barang dalam memilih dan menempatkan barang yang di kelompokkan. Manusia akan menempatkan barang yang akan di kelompokkan berdasarkan ciri-ciri kesamaannya. Sebagai manusia yang berpendidikan harus mampu mengamati berbagai objek. Klasifikasi sangat membantu manusia dalam menyusun sesuatu yang awalnya tidak teratur menjadi teratur. Menurut Sulistyo Basuki, Klasifikasi adalah suatu proses pengelompokkan atau pengumpulan benda atau entitas yang sama, serta memisahan benta atas entitas yang tidak sama.
            Secara etimologi, klasifikasi berasal dari bahasa inggris dari kata classification dan kata ini berasal dari kata to calssy yang artinya menggolongkan dan menepatkan benda-benda di suatu tempat. Klasifikasi juga berarti suatu kegiatan kegiatan pengelompokkan benda menurut ciri kesamaannya serta memisahkan benda yang tidak sama. Dalam kehidupan sehari-hari manusia sangat erat dengan kegiatan klasifikasi, klasifikasi ini sangat berdampak baik bagi kehidupan manusia. Saat ini tidak sedikit manusia yang menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering melakukan kegiatan klasifkasi. Hal ini sangat membantu dalam kegiatan-kegiatan tertentu yang dilakukan oleh manusia. Secara garis besar klasifikasi sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Dalam konteks menyusun suatu pengetahuan secara sistematis berdasarkan kaedah-kaedahnya dan ini merupakan suatu bentuk dari klasifikasi.
            Klasifikasi tidak hanya dapat dilakukan dirumah saja, ini bisa juga sangat perlu dilakukan di perpustakaan. Dalam dunia perpustakaan, klasifikasi diterapkan di pusat informasi sebagai peyusunan secara sistematis terhadap buku atau bahan pustaka lain atau katalog atau indeks berdasarkan subjek, dalam cara yang paling berguna nagi mereka yang ingin membaca atau mencari informasi atau buku di perpustakaan. (Sulistyo-Basuki, 1999:298). Dari pengertian ini klasifikasi mempunyai fungsi yaitu: sebagai tata penyususanan buku di jajaran rak, serta sebagai sarana penyususnan entri bibliografi pada katalog, dan indeks dalam tata susunan yang sistematis. Dalam kaitannya di dunia perpustakaan klasifikasi diartikan sebagai kegiatan pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang sama, misalnya pengarang, fisik, isi dsb. Akan tetapi yang menjadi dasar utama penggolongan berdasarkan isi atau subyek buku. Ini artinya bahwa buku-buku yang membahas subyek yang sama akan dikelompokkan bersama-sama. Maka dari itu saya akan membahas secara lebih mengkhusus pada penerapan klasifikasi di perpustakaan. Pembahasan pertama diawali dengan sejarah dan perkembangan klasifikasi serta tujuan dan manfaat dari klasifikasi di perpustakaan.

Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi
Klasifikasi yang kita tahu saat ini adalah bentuk kegiatan pengelompokkan yang dilakukan oleh manusia untuk untuk membedakan barang – barang atau makhluk hidup yang berbeda jenis, fungsi, dan sebagianya untuk dikelompokkan kedalam satu wadah yang nanti berguna untuk mempermudah dalam pencarian benda – benda ataupun yang lainnya. Klasifikasi telah ada pada tahun 2000. Namun, ilmu biologi memulai dengan klasifikasi pada abad ke-4 SM. Orang yang pertama kali melakukan kegiatan ini yaitu Aristoteles seorang ilmuan Yunani. Aristoteles melakukan klasifikasi pada makhluk hidup yaitu tumbuhan dan hewan. Menurut Aristoteles klasifikasi makhluk hidup dibagi menjadi kingdom plantae dan animalia. Dimana kingdom plantae atau bisa dikatakan kelompok tumbuhan memiliki klorofil dan tidak bisa berpindah tempat sedangkan kingdom animalia atau hewan tidak memiliki klorofil namun bisa berpindah tempat. Melalui kegiatan yang di lakukan oleh Aristoteles ini, lalu ilmuan perpustakaan yang bernama Melvil Dewey menerbitkan klasifikasi persepuluh dewey (DDC) tahun 1876 dengan judul “A Classification and Subject Indects for a Library”. Pada saat itu, penerbitan pertamanya masih sangat sederhana yang hanya berjumlah 42 halaman, 12 hlm bagian pendahuluan, 12 hlm bagian bagan, dan 18 hlm indeks. (Noprianto, 2014)
Pengertian klasifikasi juga dikemukakan oleh para ahli yaitu salah satunya Harrolds Librarians Glossary yang mengatakan bahwa klasifikasi adalah pengelompokkan benda secara logis menurut ciri-ciri kesamaannya. Pengelompokkan ini nantinya memberikan kemudahan bagi manusia dalam melakukan kegiatan. Penyusunan secara sistematis biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga yang menyimpan berkas maupun file, yang tujuannya yaitu untuk mempermudah dalam menyimpan atau mencari file yang diperlukan secara cepat. Selain Harrolds Librarians Glossary yang berpendapat, ada banyak lagi para ahli mengemukakan pendapatnya seperti bapak pustakawan kita yaitu bapak Sulistyo Basuki mengatakan bahwa klasifikasi adalah proses pengelompokkan atau pengumpulan benda atau entitas yang sama, serta memisahkan benda atas entitas yang tidak sama. Towa P. Hamakonda dan J.N.B. Tairas juga mengatakan klasfikasi adalah pengelompokkan yang sistematis dari obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Di dalam klasifikasi bahan pustaka dipergunakan penggolongan berdasarkan beberapa ciri tertentu. Misalnya oleh karena bentuk fisik yang berbeda, maka penempatan buku perpustakaan dipisahkan daripada surat  kabar, majalah, piringan hitam,  microfilm dan slides.
Kegiatan pengklasifikasian ini berawal dari kegiatan manusia sehari-hari dalam berbagai kegiatan persahaan maupun yang lainnya. Hal bisa dilihat dari pengelompokkan benda yang memiliki ciri yang sama dan memisahkan yang tidak sama. Setelah menciptakan DDC pertama kali yang diterbitkan oleh Melvil Dewey, DDC terus berkembang seiring dengan perembangannya ilmu pengetahuan. Sampai sekarang banyak negara yang menggunakan DDC ini, yang sudah tercatat menggunakan DDC ini yaitu 35 negara dan diterjemahkan melebihi dari 30 bahasa serta diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Pada tahun  1894 kembali DDC menerbitkan edisi terbaru, namun edisinya masih ringkas. Edisi ringkas ini diterbitkan untuk perpustakaan yang berskala masih kecil atau tidak terlalu besar koleksinya, yang berarti perpustakaan yang jumlah koleksinya masih dibawah kisaran 20.000 judul (Nopriaonto, 2014). Klasifikasi juga diterapkan di bidang ilmu pengetahuan lainnya serta kegatan manusia di kehidupan sehari-hari. Untuk ilmu pengetahuan alam khususnya biologi klasifikasi untuk pengelompokkan makhluk hidup. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa banyak kegiatan yang menggunakan klasifikasi walaupun itu cukup sederhana, untuk itu fokuskan klasifikasi pada bidang ilmu pusat informasi dan perpustakaan.

Pengaplikasian Klasifikasi dalam Pusat Informasi
            Kita sudah mengetahui bahwa klasifikasi sangat membantu kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari serta hal ini dapat diterapkan pada bidang pusat informasi, karena dilihat dari banyaknya informasi yang ada dan perlu pengelompokkan informasi sesuai ciri nya. Zaman sekarang manusia harus melek akan segala informasi yang beredar. Di zaman yang semakin berkembang sangat perlu mengetahui informasi yang beredar, karena informasi sangat penting supaya kita tidak ketinggalan informasi di berbagai belahan dunia. Informasi sendiri tidak hanya didapatkan melalui koran atau majalah, melainkan bisa melalui media sosial. Media sosial ini membantu kita lebih update mendapatkan informasi. Informasi merupakan data yang telah diolah sehingga memiliki bentuk yang berarti dan bermanfaat bagi penerimanya, yaitu untuk dapat digunakan dalam pengambilan keputusan baik itu untuk saat ini atau di masa yang akan datang. Maraknya sumber informasi yang ada pada zaman ini membuat banyak orang-orang untuk memanfaatkan keadaan untuk membuat berita bohong dan menyebar luaskan di media sosial. Hal ini menyebabkan banyak berita yang tidak benar di dunia maya, serta menyebabkan resah pengguna media sosial. Berbagai masalah muncul, seperti berita bohong yang memenuhi media sosial yang sifatnya bisa saja membuat orang jengkel. Jelas sekali bahwa kita sebagai mahasiswa yang berpendidikan bijak menggunakan media sosial, seperti memilah atau memilih mana berita bohong atau berita benar. Dengan begitu di zaman modern klasifikasi informasi sangat penting karena klasifikasi juga dapat menjaga suatu rahasia yang dimiliki oleh organisasi. Klasifikasi yang diterapkan pada informasi dapat dibedakan dengan berbagai cara pengklasifikasian. Misalnya, menurut fungsi sistem (embedded IT System, dedicated IT system, dan general purpose IT system), menurut departemen atau perusahaan bisnis (sistem informasi akuntansi, sistem informasi pemasaran, sistem informasi produksi, dll), menurut dukungan terhadap level manajemen dalam perusahana (sistem pemrosesan transaksi, sistem pendukung keputusan, san sistem informasi eksekutif), menurut ukuran dan menurut cara melayani permintaan (klien-server). ( Desy, 2011 )

Pengaplikasian Klasifikasi pada Perpustakaan
Tujuan utama dari perpustakaan adalah mengusahakan agar semua pengunjung dapat secara mudah memperoleh bahan yang diperlukan. Salah satu diantara alat-alat yang diciptakan orang untuk maksud tersebut adalah klasifikasi. Dunia Perpustakaan klasifikasi sangat penting dilakukan karena kegiatan ini dapat membantu mempermudah  pustakawan maupun pengunjung dalam menacari buku ataupun menata buku. Dapat dibayangkan jika sistem klasifiasi tidak dilakukan di perpustakaan, maka buku-buku yang jenisnya berbeda akan tercampur sehingga untuk mencari buku yang diinginkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Saat ini sudah terbukti bahwa perpustakaan yang sudah berembang di zaman sekarang sudah mengembangkan klasifikasi, hal ini membuat para pengunjung semakin puas dalam mencari buku di perpustakaan. Mendengar kata perpustakaan pasti kebanyakan orang akan berpikiran tentang buku. Dalam buku pasti banyak pengetahuan yang terdapat di dalam nya tidak terkecuali informasi. Kaitannya perpustakaan dengan informasi sangat erat karena merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh pustakawan bahkan perpustakaan. Jadi, klasifikasi dalam dunia perpustakaan sagat penting dan perlu diterapkan seterusnya. Kegiatan teknologi informasi merupakan kegiatan manusia yang biasa dilakukan setiap hari seiring dengan perkembagannya zaman serta digunakan untuk mnghasilkan dan menyebar informasi. Teknologi informasi di perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan dan kualitas pelayanan pada penggunaan pada pengguna (right information, right user and right now). Maka begitu banyaknya manfaat yang ditimbulkan oleh teknologi informasi membuat kita sadra akan pentingnya hal tersebut di era globalisasi dan serba teknologi seperti saat ini. Namun teknologi informasi juga dapat menimbulkan masalah  diantarannya hak cipta, perlindungan data, transborder data flow, dan pengangguran. Maka pengarsipan data dan teks merupakan tugas tradisional perpustakaan. Perpustakaan bertugas menyimpan kumulasi pengetahuan masyarakat sekitar. Disamping itu juga perpustakaan juga bertugas untuk mempersiapkan cantuman bibliografi dari dokumen berisi pengetahuan yang dihasilkan masyarakat (Sulistyo-Basuki, 1993 ).
Semua bagan atau sistem klasifikasi serta klasifikasi persepuluhan Dewey berusaha untuk menyusun semua subyek yang mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan manusia ke dalam suatu susunan yang sistematis dan teratur yang umumnya terdiri dari sejumlah kelas utama, yang masing-masing diperinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi, mengurutkan suatu urutan yang logis yang biasanya dari yang bersifat umum kepada yang bersifat khusus. Biasanya kita mengenal perpustakaan dengan koleksinya berupa buku, file, data-data dan juga tempat mencari berbagai informasi. Perpustakaan sekarang juga menyediakan karya tulis ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Sehingga perpustakaan merupakan tempat yang penting ada di setiap lembaga-lembaga pendidikan bahkan setiap instansi pemerintahan karena perpustakaan jantung dari ilmu pengetahuan, jadi sangat penting dilakukan kegiatan klasifikasi data-data yang ada di perpustakaan untuk memudahkan user untuk mencari buku di perpustakaan. Penerapan klasifikasi pada perpustakaan dimulai dari hal yang sederhana, dimana saat itu masih dilakukan pengelompokkan buku – buku secara sederhana. Setelah itu barulah  terciptanya sistem DDC. Bagan DDC terdiri dari kelas utama, divisi, seksi, subseksi yang masih dapat diperinci lagi. Oleh karena itu, sistem klasifikasi juga dapat dijadikan dasar untuk penyusunan buku pada rak buku, maka kepada semua berkas, bagian serta sub-bagian diberikan notasi atau simbol tertentu, sehingga buku-buku yang memiliki notasi yang sama (yang berarti membahas subyek yang sama) dapat dikumpulkan pada suatu tempat. Simbol-simbol yang dipakai berupa angka, huruf, atau kombinasi dari angka dan huruf. DDC merupakan singkatan dari Dewey Decimal Classification. DDC merupakan klasifikasi ciptaan abad ke-19 yang dibuat atas prinsip taksonomis dan hirarkhis. DDC menduduki peringkat pertama yang paling banyak digunakan. DDC merupakan klasifikasi yang digunakan pada perpustakaan, bukan klasifikasi yang digunakan untuk ilmu pengetahuan lainnya (Sulistyo-Basuki, 1993 ).
            Klasifikasi yang terus berkembang dari zaman ke zaman membuat perubahan-perubahan ynag ada pada klasifikasi. Hal ini membuat adanya beberapa perbedaan yang mucul antara klasifikasi tradisional dengan modern. Klasifikasi tradisonal cenderung untuk mendaftar ( to enumerate ) semua subjek dan subdivisi subjek serta menyatakan simbol bagi setiap subjek. Klasifikasi ini disebut klasifikasi enumeratif. Contohnya yaitu Library of Congress Classification. Sedangkan untuk klasifikasi modern menekankan pentingnya faset analisis dan sintesis, klasifikasi ini disebut klasifikasi berfaset. Contohnya yaitu Colon Classification atau klasifikasi analisi dan sintesis.(Sulistyo-Basuki, 1993 ). Tidak sembarangan perpustakaan bisa menggunakan DDC, hal ini dikarenakan setiap perpustakaan harus mengikuti unsur-unsur yang berlaku dalam menggunakan DD yaitu sebagai berikut:
1.   Sistematika
Pembagian ilmu pengetahuan yang dituangkan kedalam suatu bagan yang lengkap dan dilandaskan pada beberapa prinsip dasar tertentu.
2.   Notasi
Notasi ini terdiri dari serangkaian simbol ynag berupa angka, yang mewakili serangkaian istilah (yang mencerminkan subyek tertentu) yang terdapat dalam bagan. Dengan demikian, setiap kelas bagian dan sub-bagian di dalam bagan mempunyai notasinya sendiri yang pada bagan DDC disebut nomor kelas.
3.   Indeks relatif
Indeks relatif terdiri dari sejumlah tajuk degan perincian aspek-aspeknya yang disusun secara alfabetis, dan memberikan petunjuk berupa nomor kelas yang memungkinkan orang mencari tajuk yang tercantum dalam indeks bagan.
4.   Tabel pembantu
Tabel pembantu biasanya berbentuk serangkaian notasi khusus yang dipakai untuk menyatakan aspek-aspek tertentu yang selalu terdapat dalam beberapa subyek yang berbeda.
5.   Karya umum
Disamping itu, sistem klasifikasi juga harus menyedakan kelas untuk karya umum, untuk menempatkan karya-karya yang begitu luas cakupannya sehingga tidak dapat dimasukkan kedalam salah satu kelas utama manapun. Demikian juga untuk karya tertentu yang bentuk penyajiannya lebih dipentingkan daripada subyeknya, seperti pada kesusastraan
Klasifikasi yang diterapkan dalam perpustakaan  dan juga dalam hal informasi. Yang dengan kata lain klasifikasi dapat berfungsi ganda yaitu (a). sebagai gawai penyusun buku di rak, (b). sebagai sarana penyusun entri bibliografis dalam katalog tercetak, bibliografi, dan indeks dalam tata susunan sistematis. (Sulistyo-Basuki, 1993 ). Bibliografi merupakan Klasifikasi yang sudah diterapkan diperpustakaan ataupun pada informasi contohnya : Bibliogrfi Nasional Indonesia.
            Dalam dunia perpustakaan klasifikasi pasti memiliki tujuan. Tujuan klasifikasi adalah untuk mengorganisasikan bahan pustaka dengan sistem tertentu sehingga mudah ditemukan dan dikembalikan pada tempat penyimpanan. Adapun tujuan-tujuan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.   Menghasilkan urutan yang berguna
Tujuan utama dari klasifikas adalah menghasilkan urutan atau susunan bahan pustaka yang berguna bagi staff perpustakaan maupun bagi pemakai perpustakaan.
2.   Penempatan yang tepat
Bila bahan pustaka diperlukan pemakai, pustaka yang diinginkan mudah diketemukan serta mudah dikembalikan oleh petugas ke tempat yang pasti dan sesuai dengan sistem klasifikasi yang digunakan.
3.   Penyusunan mekanis
Bahan pustaka baru mudah disisipkan diantara bahan pustaka yang sudah dimiliki. Demikian pula  penarikan bahan pustaka tidak akan menganggu susunan bahan pustaka dijajaran.
Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa, dalam dunia perpustakaan sangat diperlukan adanya kegiatan klasifikasi guna untuk mempermudah pustakawan mencari bahan pustaka. Ini sangat membuktikan bahwa klasifikasi sangat penting dilakukan di perpustakaan. Dari penjabaran diatas, kita menyadari bahwa kegiatan klasifikasi bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam mengelompokkan suatu barang yang dapat membantu kegiatan manusia dan terus diterapkan sampai ke lembaga-lembaga pendidikan bahkan sampai ke instansi-instansi pemerintahan yang memiliki perpustakaan. Dalam dunia perpustakaan terdapat dua macam notasi dasar sistem klasifikasi yaitu: notasi murni yang hanya menggunakan salah satu dari huruf, angka, atau tanda-tanda lain secara konsisten, dan notasi campuran yang menggunakan dua simbol atau lebih yaitu gabungan antara huruf dan angka. Beberapa sistem klasifikasi perpustakaan dapat dibedakan menurut ciri pengelompokannya yaitu sebagai berikut:
1.   Klasifikasi Artifisial yaitu  pengelompokan bahan pustaka berdasarkan ciri atau sifat-sifat lainnya.
2.   Klasifikasi Utility yaitu pengelompokan bahan pustaka dibedakan berdasarkan kegunaan dan jenisnya.
3.   Klasifikasi Fundamental yaitu pengelompokan bahan pustaka berdasarkan ciri subyek. Pengelompokan bahan pustaka berdasarkan sistem ini mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:
1)   Bahan pustaka yang subyeknya sama atau hampir sama, letaknya berdekatan.
2)   Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai koleksi yang dimilikidengan melihat subyek mana yang lemah dan mana yang kuat.
3)   Memudahkan pemakai dalam menelusur informasi menurt subyeknya.
4)   Memudahkan pembuatan bibliografi menurut pokok masalah.
Klasifikasi jenis fundamental lebih banyak digunakan oleh perpustakaan besar maupun kecil. Dalam sitem tersebut buku dikelompokkan berdasarkan subyek seperti DDC sehingga memudahkan pemakai menelusur suatu informasi.

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, klasifikasi sudah ada pada zaman dulu hingga sekarang sehingga klasifikasi informasi dan perpustakaan bisa dipelajari oleh manusia.  Klasifikasi bisa diterapkan oleh manusia  dalam kehidupan sehari-hari guna untuk mempermudah mengelompokkan suatu barang atau sejenisnya. Tidak hanya itu, klasifikasi juga diterapkan dalam dunia informasi dan perpustakaan. Klasifikasi merupakan suatu proses pengelompokkan atau pengumpulan benda atau entitas yang sama, serta memisahkan benda atas entitas yang tidak sama. Klasifikasi perpustakaan dapat dilakukan dengan memenuhi unsur-unsur yang berlaku dan mengikuti aturan-aturan dalam pengklasifikasian. Sehingga, manfaat klasifikasi di perpustakaan sudah dirasakan oleh manusia saat ini yang berawal dari kegiatan sehari-hari.

Saran
            Saran saya sebagai penulis kepada pembaca agar membaca dan mempelajari bagaimana sejarah dan perkembangan klasifikasi khususnya klasifikasi di dunia perpustakaan. Dalam dunia perpustakaan sudah banyak yang menerapkan sistem klasifikasi untuk memudahkan pustakawn bahkan pengunjung untuk mencari apa yang dibutuhkan. Namun tidak sedikit juga perpustakaan yang belum menerapkan kegiatan klasifikasi ini, contohnya di sekolah saya dulu yaitu di SMA N 1 AMLAPURA. Buku-buku disana memang sudah tertata rapi tapi tidak sesuai jenisnya. Dengan terus berkembangnya zaman, saya berharap sistem klasifikasi bisa diterapkan di seluruh perpustakaan agar memudahkan mencari bahan pustaka.

Daftar Pustaka
Sulistyo-Basuki .( 1993 ). Pengantar Ilmu Perpustakaan. hal. 87 – 100, 393- 402, 419 – 421. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hamakonda, Towa P. & J.N.B.Tairas. 1992. Pengantar Klasifikasi Persepuluh Dewey.hal 1-13. Jakarta : BPK Gunung Mulia
Noprianto, Eko. 2014. Sejarah Klasifikasi. Diakses pada 7 Februari 2018. http://duniailmu111.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-klasifikasi.html
Perpustakaan Nasional RI. Klasifikasi dan Tajuk Subyek Modul 3: Klasifikasi bahan pustaka. Diakses pada 7 Februari 2018. http://pusdiklat.pnri.go.id/elearning/klasifikasi/frameset03.html
Agus, Priotomo. 2013. Materi Perpustakaan-Artikel Tentang Klasifikasi. Diakses pada tanggal 9 Februari 2018 http://aguswahyupriutomo.blogspot.co.id/2015/07/artikel-tentang-klasifikasi-ddc-udc-dan.html