Kita semua tahu kalau Indonesia itu sangat luas dan berbatasan dengan banyak negara. Nah, pernah kalian berfikir sebagai masyarakat Indonesia bagaimana rasanya tinggal di wilayah-wilayah yang langsung berbatasan dengan negara tetangga? Hidup di perbatasan memang jauh dari pantauan dan pengawasan pemerintah pusat. Alhasil banyak kehidupan-kehidupan unik menghinggapi para warga di perbatasan Indonesia dan Malaysia di kabupaten Nunukan. Nunukan adalah nama sebuah pulau yang berada di ujung utara Pulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan daerah Sabah dan Serawak, Malaysia. Nunukan juga nama dari kabupaten, kota, serta kecamatan yang ada di pulau ini. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat kehidupan masyarakatnya menjadi sangat khas.
Kalau
kita lihat tayangan video diatas,
kita akan menemui banyaknya bahan pokok dan makanan ringan yang berasal dari
Malaysia, karenga
masayarakat Nunukan sangat tergantung di negeri Jiran, Malaysia. Mata
uang ringgit di Nunukan juga menjadi alat tukar pembayaran yang biasa dipakai
oleh masyarakat selain rupiah. Menurut masyarakat di sana, hal ini wajar karena
dari segi biaya dan waktu akan lebih efisien jika mereka mengimpor barang dari
Malaysia, dibandingkan mendatangkan barang-barang dari wilayah Indonesia. Bayangkan, kalau masyarakat harus
membeli dari wilayah Indonesia, berapa lama waktu yang harus mereka tunggu
sampai barang datang karena harus melalui jalur distribusi yang panjang dan
jauh dari pusat kota. Di sepanjang
pelabuhan tunontaka banyak warga yang bekerja sebagai jasa penukar uang
ringgit. Harga barang juga menjadi lebih mahal karena harus
melalui proses angkut pindah barang yang panjang. Bandingkan
dengan biaya dan waktu yang harus mereka keluarkan untuk mendatangkan
produk-produk Malaysia yang bisa didapatkan dari kota Tawau, Malaysia yang
berjarak hanya sekitar satu jam perjalanan laut dari Nunukan. Di pagi hari warga Nunukan ke Tawau, Malaysia untuk
bekerja menggunakan kapal cepat, dan pada sore hari mereka kembali ke Nunukan. Warga
Nunukan pergi ke Tawau, Malaysia untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti
beras, gula, dll yang akan di jual kembali di Nunukan. Tujuam warga Nunukan
membeli kebutuhan pokok disana karena harga di Tawau lebih terjangkau di
bandingkan dengan harga di perbatasan Nunukan. Pertukaran produk sudah lama
terjadi di Tawau, tidak hanya warga Nunukan saja yang mengkonsumsi produk
Malaysia, namun warga Malaysia juga mengkonsumsi produk Indonesia. Di pasar
Nunukan sendiri, produk-prodk dari Tawau, Malaysia sangat mudah ditemukan. Jika
membeli dengan jumlah yang kecil, perbedaan harga produk memang tidak terasa,
namun jika membeli dengan jumlah besar harga produk Malaysia yang dijual lebih
bersaing. Pemerintah di Kabupaten Nunukan tidak dapat berbuat banyak, karena
jarak dan transfortasi yang menjadi alasan
mahalnya barang di perbatasan. Suprianto sebagai Asisten II Ekonomi dan
Pembangunan Kabupaten Nunukan mengatakan bahwa Nunukan masih kekurangan, barang
lebih mudah, murah dan cepat masuk dari luar atau dari Malaysia daripada dari
Indonesia. Faktor letak wilayah serta murah dan mudahnya mendapatkan
produk-produk dari Malaysia membuat warga perbatasan secara ekonomi terjajah.
Sebagian masyarakatnya dalam menyambung hidupnya lebih memilih pergi ke Tawau
ketimbang ke Nunukan. Di bidang pendidikan juga demikian.
Kabupaten Nunukan memperlihatkan sisi lain dari
Indonesia. Indonesia yang sudah merdeka 72 tahun, namun masyarakat Nunukan
masih bergantung dengan negera tetangga. Ini merupakan pembelajaran sedikit
bagi pemerintah untuk suatu tindakan di perbatasan Indonesia agar sesuatu
seperti ini tidak akan terjadi dengan waktu yang lama, mengingat Negara
Kesatuan Republik Indonesia sudah merdeka 72 tahun. Jadi seluruh warga Indonesia
mesti hidup sejahtera. Pemerintah
Republik Indonesia harusnya memikirkan kesejahtaeraan dan kemakmuran rakyatnya
terutama di daerah perbatasan agar kehidupannya tidak selalu tergantung dengan
negara tetangga.